NASKAH DRAMA "Aisyah Mentariku"
Judul : Aisyah Mentariku
Tema : Percintaan
Prolog :
Ketika
takdir kurasa aneh, aku yang tak sempurna, yang bukan siapa – siapa, bahkan
bukan makhluk baik di mata TuhanKu bisa mencintai seseorang yang amat teramat
sempurna seperti dia. Aku berusaha, aku berusaha menjadi yang terbaik untuknya.
Meskipun awalnya sulit, banyak rintangan yang menghalau perjalananku dan sangat
bertentangan denganku, tapi aku terus berusaha. Hingga pada akhirnya dia tak
sengaja merubahku, merubahku menjadi jauh lebih baik. Bahkan dialah orang
pertama yang mengenalkanku pada Tuhanku yaitu Allah SWT.Terima kasih Aisyah,
kau sungguh Mentari terindah bagiku.
Babak :
Babak 1
Di sebuah masjid di tengah desa
sedang diadakan suatu pengajian rutin yang biasanya dihadiri oleh remaja –
remaja masjid putri maupun putra. Dan pada jam 21.00 tepat pengajian berakhir,
para remaja putri dianjurkan untuk pulang terlebih dahulu. Ada 2 gadis yang
selalu berangkat dan pulang bersama – sama. Namun di ujung gang ada 2 preman
yang mengamati kedua gadis ini
Dimas : “Hay bro, apa kabar”
Maul :”Halo bray, lumayan nih”
Dimas :”Loh, lumayan apa bro?”
Maul :”Iya nih, lumayan ancur. Gak ada duit bro
nanti kita gak bisa pesta”
Dimas :”Eh eh lihat bro, kita ada mangsa”
Maul :”Mana mana bray?” (melongokkan kepala,
mencari cari)
Dimas :”Itu
bro, 2 cewek itu loh yang bodynya wow. Samperin yuuk!” (menunjuk salah satu
gadis)
(2 preman
menghampiri 2 gadis)
Maul :”Halo gadis cantik, mau dianter pulang
nggak?”
Aisyah :”Hei ada apa ini, kalian siapa?” (kaget dan takut)
Yani :”Jangan ganggu kami, kami mau pulang”
(sedikit berteriak)
Dimas :“Kalo gak mau di ganggu, bagi duit dong,
bokek nih” (menggoda)
Aisyah :”Kami
nggak bawa uang, jangan ganggu kami. Pergi pergi!” (berteriak)
Mendengar
keributan Pak Ust Naufal yang baru keluar masjid mengahampiri keributan diluar
(Pak ust
datang)
Ust Naufal :”Hei ada apa ini ribut – ribut?
Yani :”Ini Ustad, 2 preman ini menghalangi kami pulang pak” (mengaduh)
Ust Naufal :”Oh he kalian berdua jangan pernah
ganggu kedua gadis ini, atau kalian akan saya panggilkan polisi sekarang!
Maul :”alah pak ustad bisanya
cuman ngancem, cobak panggilkan polisi sekarang, pasti gak bisa toh?”
(menantang)
Dimas :”alah iya, pasti gak bisa.
Ustad zaman sekarang bisanya cuman ngibul yeeee”
(menyindir)
Ust Naufal :”loh kalian gak tau ya di sekitar
sini saya punya kenalan polisi, kalian mau di penjara cuman gara gara ngerampok
2 gadis gak bersalah?
Dimas :”Ha serius warga disini ada
yang polisi? Ah iya ustad ampun
ampun, ayo bro kita pergi daripada masalah sepele kita jadi masuk penjara,
ayo pergi! (takut lalu pergi)
Kedua preman itupun
pergi, pak ustad dan kedua gadis itu hanya bisa menggeleng pelan di tempat itu.
Lalu pak ustad menyuruh keduanya pulang.
Babak 2
Di dalam rumah pak ustad Naufal yang ternyata adalah Abi dari Aisyah, salah satu gadis yang digoda oleh preman tadi
Abi :”Nak kamu tadi beneran tidak di apa apakan kan sama
kedua preman itu?
Aisyah :”Tidak kok Abi, tadi mereka hanya menggoda saja. Mereka tidak sampai
menyentuh aku dan Yani kok”
Ummi :”Kamu tadi kenapa nak?
Habis di godain preman ya? Makanya kalo pulang jangan langsung nyeludur berdua
saja sama Yani. Tunggu Abimu saja, biar pulang bareng, biar kamu selamat. Kalo
kamu sampai di bawa pergi sama preman itu gimana? Jaga dirimu nduk, kamu anak
ustad, jaga nama baik Abimu”
Aisyah :”Ih Ummi, aku gak mau kalau
nunggu Abi pulang. Terkadang kan Abi masih ditanya – tanya sama warga di
masjid, kalau aku nunggu Abi kasihan Yani mi dia nunggu lama nanti”
Abi :”Iya mi Aisyah ada benarnya juga, kan nggak enak
sama ibunya Yani kalau anaknya pulang sendirian malam - malam. Nah di masjid
Abi biasanya dimintai saran oleh warga tentang masalah di desa ini juga mi,
nggak enak kalau tidak menjawabnya”
Ummi :”Tapi Ummi khawatir bi
kalau preman preman itu kembali menggoda anak kita bagaimana? Kalau anak kita
sudah tidak perawan lagi gimana? Apa kata orang bi, malu bi maluuuu”
Abi :”Hus sudahlah mi jangan berpikir yang tidak tidak, mulai sekarang Abi akan
coba lebih mengawasi Aisyah kalau pulang
pengajian. Ummi tenang saja ya”
Aisyah :”Iya mi Aisyah kan udah gede, aisyah juga bisa jaga diri sendiri kok mi”
Ummi :”Awas saja kalau kamu sampai
tidak bisa jaga diri, sudah kamu tidur sana sudah malam. Besok jangan sampai
telat bangunnya, kamu sudah jarang sholat berjama’ah loh nduk!”
Aisyah :”Iya ummi, maaf”
Babak 3
Di pos kamling kedua preman tadi sedang tiduran sambil mengobrol
Maul :”Eh bro, aku kok kepikiran
gadis yang pake kerudung ijo tadi ya bro? gile dia manis banget bro, kayaknya
aku suka deh sama dia, namanya siapa ya kira - kira”
Dimas :”Oh gitu ya, ya kamu cari
tau dong bray. dia kayaknya
islami banget, mungkin namanya sakinah, kalau nggak
solikha atau enggak aisyah bray. kalau orangnya
alim, biasanya namanya juga islami loh
bray”
Maul :”Ah kamu sok tau bro,
bisa aja kan namannya Rachel, atau nggak Carissa atau bisa juga Meirina hayo, nama anak sekarang modern modern bro”
Dimas :”Ya terserah kamu aja lah
bray, yang paling bener ya kamu cari tahu dong bray. yang gentle gitu loh”
Maul :”Oh oke
okelah bray, aku kan gentle”
Babak 4
Keesokkan harinya sebelum Aisyah dan Yani berangkat sekolah, mereka
bertemu lagi dengan 2 preman kemarin
dan mereka sempat diajak ngobrol oleh preman itu
Maul :”Eh
halo, ketemu lagi nih. Jangan kabur ya, kita sebenernya baik kok, cuman kemarin
lagi sensi aja hehe (tertawa kecil)
Dimas :”Iya
loh, kita ini baik kalau ada maunya sih. Eeh enggak emang baik kok aslinya haha
(tertawa)
Aisyah :”Mau
kalian apa lagi, kami mau berangkat sekolah nih nggak ada waktu (berjalan
menjauh)
Maul :”Eh
eh sebentar dong, aku aku aku cuman ingin tahu siapa namamu?” (menghadang di
depan Aisyah)
Yani :”He
kamu nggak usah sok kenal deh, dan gak usah ganggu Aisyah. Mau di laporin
beneran sama Abinya Aisyah ha? (menantang)
Dimas :”Ha
maksud kamu apa? Memangnya Abinya Aisyah siapa kok mau ngelaporin kita? Kamu
ngomong apasih? (bingung, Maul juga bingung)
Yani :”Oh
kalian belum tahu, kemaren kan kalian sudah ketemu sama Abinya Aisyah, jangan
macam – macam ya sama anak Ustad bisa kualat kalian” (menakut menakuti)
Aisyah :”Hus
sudah ah Yan, ngapain ngeladenin orang – orang gak jelas ini, ayo pergi nanti
kita telat lagi” (menjauh lagi)
Dimas :”Eh
tunggu jadi nama kamu Aisyah,
tuh kan bener ul. Namanya islami kan huu (meledek Maul)
Maul :”Aaah
yang aku tanyakan sekarang, jadi kamu anaknya Ustad Naufal? Kok aku bisa gak
tahu ya gadis sealim dan semanis kamu anak seorang Ustad” (merayu)
Aisyah :”hiiiish
jijik” (berjalan lebih cepat, menggandeng Yani dan pergi menjauh meninggalkan
Maul dan Dimas)
Babak 5
Sepulang sekolah Yani mampir dulu di rumah
Aisyah, karena rumah mereka dekat jadi Yani sering mampir dan mengobrol dulu di
rumah Aisyah. Di teras rumah Aisyah
Yani :”Ais hari ini capek
banget ya, mana tadi ulangan 3 pelajaran lagi, untung aja kita bisa ngerjain”
(bersantai)
Aisyah :”Iya ya Yan, untung
juga hari ini pak Hendri moodnya lagi bagus jadinya enak hehe (tertawa
kecil)
Yani :”Ais aku keinget 2
preman yang tadi pagi deh, jadi mereka belum tahu kalo kamu anaknya Ust Naufal?
Padahal kan Abimu itu sudah terkenal (penasaran)
Aisyah :”Yaa mereka kan preman Yan,
masak pernah sih merhatiin anak – anaknya Ustad, mereka kan gak tahu agama”
Yani :”Oh iyaya bener, eh iya
ngomong – ngomong kamu tadi juga sempat dirayu kan Syah sama yang rambutnya
lurus, kayaknya dia suka sama kamu Syah (asal)
Ummi :”Siapa nak yang suka sama
Aisyah? Anaknya baik nggak, sopan nggak, tahu agama nggak? Soalnya ummi nggak
mau Aisyah berhubungan sama anak orang yang tidak baik baik, merusak nama baik
orang tua saja (tiba – tiba datang dan menyambung pembicaraan)
Aisyah :”Eh ummi tidak ummi, Yani
nih kalau ngomong asal. Nggak ada yang suka sama Aisyah kok, semua cuma teman
Ummi, ya kan Yan? (agak salting sambil menyikut Yani)
Yani :”Oh iya Ummi, tadi aku
bercanda kok Ummi. Maaf Ummi (takut pada Ummi)
Ummi :”Oh yasudah kalau begitu,
Ummi kembali ke belakang ya. Yani tolong awasi Aisyah ya nak! (kembali masuk ke
dalam rumah)
Yani dan Aisyah hanya diam sejenak mendengar
ucapan terakhir Ummi, lalu tersadar dan mengobrol lagi, namun berganti topik.
Babak 6
Sementara itu di Kos-Kos an Maul, Dimas dan Maul sedang menikmati hasil
jerih payah mereka. Mereka berdua sebenarnya masih sangat muda namun sudah bekerja
sebagai tukang ojek, karena jauh dari orang tua sejak dulu dan akhirnya
penampilan mereka seperti preman. Saat sedang makan, mereka mengobrol
Dimas :”Nih makan dulu bray, jerih
payah kita hari ini. Lumayan kita bisa makan enak hari ini” (meletakkan makanan
yang telah di belinya di depan Maul)
Maul :”Oh
iya bro, makasi” (kaget setelah melamun cukup lama)
Dimas :”Kamu kenapa sih bray hari
ini, kok kayaknya galau gitu. Melamun
terus lagi, kenapa bray? Ada masalah? (mencoba menenangkan)
Maul :”Eh enggak bro, eh iya kamu
kok bisa bener waktu itu nebak nama gadis itu Aisyah, jangan jangan kamu tahu
sesuatu tentang dia dari awal ya? Kasih tahu aku dong bro” (sangat ingin tahu )
Dimas :”Oh kamu lagi mikirin gadis
itu, pantes. Enggak lah bray aku nggak kenal sama sekali sama dia. Aku cuman
asal nebak ul,
sumpah serius suweeeer!” (sambil mengacungkan 2 jarinya)
Maul :”Oh yaudalah bro, makan
dulu gih laper” (membuka bungkusan, diikuti Dimas)
Dimas :”Kamu
suka beneran ya ul sama si Ais?” (ingin tahu juga)
Maul :”I…iya nih Dim, tapi kok
ternyata dia anaknya ustad Naufal ya. Gak enak aja ndeketin anak ustad, kita
kan terkenal preman Dim. Dim bantu mikir dong, gimana ya caranya biar aku bisa
deket sama si Ais (menyuapkan makanan setelah minta saran)
Dimas :”Kalau menurutku sih,
mending deketin dulu yang bukan anak Ustad. Temennya tuh si Yani ul gimana? (memberi saran)
Maul :”Ehm gimana ya Dim, malah
aneh rasanya kalo nggak deketin langsung sasaran. Bantuin aja ya mintain nomor
teleponnya si Ais ke si Yani. Jadi kamu yang deketi Yani duluan, gimana?
Dimas :”Ehm boleh juga tuh, okelah
aku usaha dulu bray. Kamu tunggu kabar aje” (senang)
Babak 7
Sore itu juga Dimas menghampiri Yani ke rumahnya
Tok tok tok
Dimas :”Assalamalaikum!”
Yani :”Iyaa sebentaar!”(sambil membuka pintu)
Dimas :”Hay” (tersenyum lebar)
Yani :”Ya allaah kamu! Ngapain kamu kerumahku? eh km kok bisa tau rumahku?”
Dimas : (menggaruk-garuk kepala)
“heehe iya aku tau aja, kaaan aku suka perhatiin
kamu..”
Yani :”Apa? Jangan-jangaaan kamu mau nyuri isi rumahku ya? iya ya? Aku teriak nih! 1…2..
Dimas :”eeeh eeh enggak yan! aku bukan mau mencuri isi rumahmu kok! aku Cuma mau
ngelaksanain amanat!”
Yani :”Ha? amanat? emang seorang preman kayak kamu bisa ngelaksanain amanat?”
Dimas :”Waah kamu ini menghina sekali! ya bisa laah..
kan aku lelaki yang terhormat (sambil menyombongkan dirinya)
Yani :”Yasudaah!cepat!ada apa???”
Dimas : “Eem… ini..aku mau minta nomer hapenya aisyah yaan! eh
tapi jangan salah paham duluu ini aku disuruh maul lo!”
Yani :”Oh gituu.. sebentar-sebentar!”
Dimas :”Okeeeeeeeeh”
Yani :”Eh! tapi ada syaratnya ya!”
Dimas :”Apaaa?”
Yani :”Kamu jangan bilang siapa-siapa kalo nomernya ais aku yang kasih! Awas kamu yaa sampek ada yg tau kalo nomernya ais aku yg kasih!”
Dimas :”Wooooooh itumah gampang!!!! beres yaaan”
Yani :”Nih!” (sambil memberikam nomor)
Dimas :”Okee yaan tengkiyu!”
Yani :”Udaaah pergi sana! keburu ada ummi sama abiku!”
Dimas :”Iyaa, Assalamualaikum!” (sambil cengengesan)
Yani :”Waalaikumsalam”(sambil menahan emosi)
Babak 8
Sampai di kosa – kosan, Dimas masuk
Maul :”Eh
gimana bro?
Dimas :”Isssh
gagal bro” (pura – pura murung)
Maul :”(menundukkan
kepala)
Dimas :”Kok lesu gitu, canda kale. Ini nih nomernya (memberikan hape). Udah kamu
smsan sana, aku mau mandi dulu”
Maul :”Hehehe,
lo hebat banget bro”
(tingtingting)
Aisyah :”Nomernya
siapa nih?” (melihat hape, tanpa di balas)
2 jam kemudian
Maul :”Bangsaaaaat, gak di
bales. Eh Dim lo ngasih nomer palsu ya, buktinya gak dibales gini” (marah)
Dimas :”Mana gua tahu, orang aku
dapetnya dari Yani. Cobak pean sms lagi. gue kan gak tau, kalau salah ya Yani
bukan gue”
Maul :”Yaudah
gue cobak lagi”
(tingtingting)
Aisyah :”Haduh
nomer ini lagi, yaudah aku bales aja siapa tau ini penting”
Maul :”Bro
dibales broooo, haduh bro hatiku berdetak kencang bro”
Dimas :”Bilangin
juga apa, itu bener nomernya kan”
Maul dan Aisyah
terus bersmsan dan arhirnya Maul mengajak Aisyah ketemuan di belakang masjid
jam 8 tepat
Babak 9
Di belakang masjid jam 8 tepat, Maul dan Aisyah bertemu
Maul :”Haduh
si Ais mana sih, aku harus ngomong apa ini? (dalam hati)
Aisyah :”Haduh aku takut ketahuan
Abi nih” (dalam hati sambil menuju ke belakang masjid)
Maul :”Ha..ha..hai
Ais!”
Aisyah :”(mengangguk)
ada apa Maul?”
Maul :”Gini
Ais aku mau ngomong sesuatu sama kamu” (malu malu)
Aisyah :”Mau
ngomong apa Ul?”
Maul :”Sebenernya sejak waktu
itu, aku merasakan sesuatu yang berbeda saat pertama kali bertemu kamu. Rasa
itu tak pernah aku alami selama 16 tahun ini. Intinya, kamu mau nggak jadi
pacarku?”
Aisyah shock dan berpikir keras
Aisyah :”Gimana ya Ul, aku…… aku
pasti dilarang oleh Abiku, kan Abiku adalah seorang ustad. Dan seorang ustad
itu kan contoh warga dan jamaah, dan aku sebagai anaknya pasti akan meneruskan
perjuangan Abiku. Maaf ya aku gak bisa menerima kamu”
Maul :”Aku kurang apasih
Aisyah, duit ada, ganteng iya, manis iya, keren iya terus kamu ingin apa lagi?”
Aisyah :”Kamu nggak kurang kok Ul,
aku tau juga Allah menciptakan manusian itu sempurna tak ada jeleknya. Tapi
kamu punya satu kekurangan, tapi kamu nggak Amar ma’ruf nahi mungkar”
Ummi :”Aisyaaaaaah kamu ngapain
disitu, cepat pulang” (menarik Aisyah) He kamu jangan macam – macam sama anak
saya, lagian kalau kamu suka sama anak saya, hubungan kalian gak akan saya
restui .
Di kos – kosan
Dimas :”Gimana
kencanya bro?”
Maul :”He bro maksudnya Amar ma’ruf nahi mungkar itu apaan
sih?”
Dimas :”Eh tumben kata katamu
tinggi banget, kalo gua pikir – pikir sih kayaknya kata – kata menuju kebaikan
deh”
Maul :”Bener juga bro, gue
preman kayak gini masak bisa dapetin gadis sealim Aisyah. Harusnya aku berubah
untuk dapetin dia”
Babak 10
Bertahun - tahun Maul belajar ilmu agama, akhirnya dia kembali mencari
Aisyah.
Di depan rumah Aisyah, toktoktok…
Maul :”Assalamualaikum”
Ummi :”Waalaikumsalam,
Astagfirullah, kamu telah berubah sekarang. Duduk dulu
nak”
Di ruang tamu
Ummi :”Ada apa
kamu kesini nak?”
Maul :”Saya kesini mau melamar
Aisyah Ummi, jadi begini Ummi selama 3 tahun ini saya belajar ilmu agama di
Mekkah, dan sebenernya saya adalah anak
pak Haji Muklas tapi saya menentang ayah saya dan menjadi preman, namun setelah kenal
Aisyah saya menjadi ingin bertaubat dan kembali kepada ayah saya”
Ummi :”Oh begitu, saya panggilkan
Abi dulu ya nak. Supaya kau bisa kenal sama Abi” (masuk ke dalam dan memanggil
Abi)
Abi keluar dan duduk di hadapan Maul
Abi :”Ya Allah kamu,
jadi kamu yang mau melamar anak gadis saya. Memangnya kamu sudah yakin bisa
menjadi imam yang baik untuk anak saya. Saya khawatir kamu berpenampilan
seperti ini saat melamar saja, tapi seterusnya berubah lagi”
Maul :”Ya
Allah Ustad belum belum sudah su’udzon begitu. Saya sudah berjanji pada diri
saya sendiri Ustad kalau saya bakal menjadi imam bagi istri dan anak – anak
saya kelak”
Abi :”Oh
begitu, jadi mulai detik ini saya pegang janji kamu nak jangan sampai
mengingkarinya. Sebentar Abi panggilkan Aisyah dulu, dan lamarlah dia di
hadapan Abi dan Umminya”
Abi memanggil Aisyah untuk keluar, setelah
itu Abi, Ummi dan Aisyah keluar menemui Maul yang akan melamar Aisyah
Aisyah :”Ya
Allah kamu Maul, Alhamdulillah kamu telah benar – benar berubah menjadi orang
yang amar ma’ruf nahi mungkar seperti yang Aisyah pesankan 3 tahun yang lalu
saat kita terakhir kali bertemu” (senang)
Maul :”Benar
Ais, aku bisa sampai begini karena
pesanmu dulu. Dan alhamdulillah Allah memberi hidayah kepadaku agar menaati
perintahnya dan menjauhi larangannya” (bahagia dan bangga)
Aisyah : (tersenyum dan menunduk)
Maul :”Jadi
begini Aisyah, Aku telah berniat Lillahi Ta’ala. Apakah kau mau menerima
lamaranku dan menjadi istriku serta menjadi ibu bagi anak – anakku kelak? Atas
restu Abi dan Ummi tentunya (berlutut dihadapan Aisyah, Abi dan Ummi)
Aisyah :
(menoleh kepada Abi, Ummi yang menganggukkan kepala) “Iya Maul aku menerima
lamaranmu, dan bersedia mendampingimu sampai kita menjadi buyut bagi cucu cucu
kita” (bahagia)
Sebulan kemudian, akad nikah dilaksanakan.
Bertempat di masjid kenangan Maul dan Aisyah. Tempat keduanya pertama kali
bertemu. Kedua mempelai, kedua orangtua
mempelai serta tamu undangan terlihat bahagia d setelah akad nika dilangsungkan.
Dan ada sepasang tamu undangan yang tak asing bagi kedua mempelai, mereka
adalah…..
Dimas :”Selamat
ya bro dan Ais, ternyata kalian benar – benar jodoh sejak pertama bertemu, aku
turut bahagia. Eh iya kenalkan ini istriku, maaf ya tidak undang – undang
soalnya kita menikah di kampung halaman hehe”
Yani :”Selamat
ya Maul Ais, aku juga turut bahagia ternyata kalian benar – benar serasi”
(tersenyum)
Aisyah :”Ha jadi
kalian sudah menikah, selamat ya. Kalian juga serasi kok. Nggak nyangka ya
ternyata kita telah menemukan jodoh kita masing – masing”
Maul :”Oh
jadi dulu kamu juga ngincer Yani ya bro haha, selamat juga lah buat kalian
berdua, jodoh emang nggak lari kemana kok”
Aisyah :”Ya
Allah semoga kami selalu bahagia dalam mejalani hidup baru bersama pasangan
kami masing – masing”
Yani, Maul,Dimas :”Amin
bu Ustadzah. Hahaha” (tertawa bahagia)
Mereka tertawa bersama – sama, tak disangka
jodoh mereka berada di dekat mereka selama ini. Semoga mereka bahagia menjalani
hidup baru dalam suka maupun duka.
Epilog :
Butuh perjuangan untuk mendapatkan
yang kita mau, butuh usaha keras untuk benar – benar memilikinya serta
menjaganya dengan baik. Bahkan sampai perlu merubah diri sendiri untuk
mendapatkan apa yang kita mau. Asalkan tujuan yang ingin dicapai itu positif
dan tidak melenceng dari ajaran agama. Namun dibalik usaha keras itu juga harus
ada doa yang mengiringi agar Allah meridhoi proses dalam mengejar tujuan itu.
Komentar
Posting Komentar