Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2016

Tertawalah Sekarang, Menangislah Nanti

Ya sebenarnya aku sering mengalami peristiwa – peristiwa buruk, contohnya seperti judul diatas yaitu tertawalah sekarang, menangislah nanti. Awalnya aku menyadari hal itu karena salah satu temanku mengatakannya. Dia bilang bahwa orang tua dulu juga sering mengalami hal seperti itu, inilah kata mereka “ jika kalian tertawa dengan lepas sampai kau merasa bahagia sekarang , maka kamu nanti akan menangis atau merasa susah, dan bisa juga sebaliknya ” . Itu semua aku sadari belum lama ini dan i nilah 2 contoh cerita mengenai hal ini. Suatu hari yang cerah 5 tahun yang lalu, waktu itu aku SD kelas 6, Hari itu berjalan seperti biasa aku dan satu kelas selalu menikmati pelajaran yang diberikan oleh wali kelas kami sekaligus guru semua mata pelajaran kami, beliau bernama pak Luluk Su’udi biasa dipanggil pak Hudi. Pak Hudi selalu menyelingi candaan saat memberi pelajaran sehingga kami selalu tertawa saat pelajaran, nah inilah peristiwa yang membuat aku menangis kemudian, saat aku mengumpu...

Akhir Putih Abu – Abu

Ketika detik demi detik pun hilang Dan hari demi hari berjalan cepat Kita kan selalu belajar Dan kita kan selalu berjuang Walalu terkadang kita terpuruk Walau terkadang kita sulit untuk bangkit Selalu ada jalan di hari esok Untuk merubah jalan kita menjadi cerah kembali Masa putih abu – abu segera berakhir Perguruan tinggi dan profesi sudah menunggu Sudahkah kita siap menghadapi dunia kita kelak? Dunia yang kita pilih dan kita idam – idamkan Masa putih abu – abu segera berakhir Tawa, canda, cinta, dan tangis masa SMA pun turut berakhir Saatnya untuk menatap hari esok Dengan semangat yang berapi api Masa putih abu – abu segera berakhir Ucapkan selamat tinggal pada masa putih abu abu itu Saatnya menggapai masa yang penuh warna Semoga kita bertemu kelak dengan membawa gelar gelar kebanggaan

Upik Agung

           Pada zaman dahulu di sebuah desa yang makmur bernama desa Manyar, hiduplah seorang janda yang bernama Nyonya Dessi dan kedua orang anak laki – lakinya yang bernama Fai dan Edi. Dalam kesehariannya Nyonya Dessi dan dua orang anaknya selalu berlaku tidak baik dan sering menyakiti orang lain. Namun mereka tidak hidup sendiri melainkan juga tinggal dengan pembantu mereka yang bernama Bik Suti dan seorang anaknya yang bernama Upik Agung. Bik Suti dan anaknya Upik Agung selalu diperlakukan semena – mena oleh keluarga Nyonya Dessi , terkadang kedua anak Nyonya Dessi mempermainkan Upik Agung yang polos dan sangat penyabar. Saking sabarnya Upik Agung sering dibentak oleh Fai dan Edi tanpa melawan. Di waktu lain, di istana kerajaan Manyar sedang bercakap – cakap seorang ibu dengan putrinya “Nak tidak terasa ya kerajaan ini sudah berkembang begitu pesat sejak sepeninggal ayahmu” tanya sang Ratu pada Putrinya “Iya ya bu” jawab sang putri “Nak ap...