Upik Agung

           Pada zaman dahulu di sebuah desa yang makmur bernama desa Manyar, hiduplah seorang janda yang bernama Nyonya Dessi dan kedua orang anak laki – lakinya yang bernama Fai dan Edi. Dalam kesehariannya Nyonya Dessi dan dua orang anaknya selalu berlaku tidak baik dan sering menyakiti orang lain. Namun mereka tidak hidup sendiri melainkan juga tinggal dengan pembantu mereka yang bernama Bik Suti dan seorang anaknya yang bernama Upik Agung. Bik Suti dan anaknya Upik Agung selalu diperlakukan semena – mena oleh keluarga Nyonya Dessi, terkadang kedua anak Nyonya Dessi mempermainkan Upik Agung yang polos dan sangat penyabar. Saking sabarnya Upik Agung sering dibentak oleh Fai dan Edi tanpa melawan.
Di waktu lain, di istana kerajaan Manyar sedang bercakap – cakap seorang ibu dengan putrinya
“Nak tidak terasa ya kerajaan ini sudah berkembang begitu pesat sejak sepeninggal ayahmu” tanya sang Ratu pada Putrinya
“Iya ya bu” jawab sang putri
“Nak apakah kamu tidak berniat mencari calon suami untuk meneruskan tahta ayahmu sebagai raja?” Saran sang Ratu
“Iya bu, aku sudah berusaha tapi belum menemukan yang cocok mereka semua hanya menginginkan tahta ayah saja bu” Jawab sang Putri
“Kamu benar nduk, bagaimana kalau kita mengadakan sebuah sayembara?” usul Ratu
“Sayembara apa bu?”Tanya Putri
“Nanti kamu akan tahu sendiri nak” Jawab Ratu penuh misteri
            Akhirnya sayembara itu pun disebarkan. Semua penjuru mendengar adanya berita itu. Dan banyak masyarakat tertarik mengenai hal itu tak terkecuali kedua anak Nyonya Dessi. Bahkan kedua anak Nyonya Dessi juga bersaing untuk mengikuti sayembara itu. Menjadi suami seorang Putri kerajaan adalah impian semua pemuda desa, yang jika terwujud bagai menerima durian runtuh pada saat itu juga. Bahkan Upik Agung pun juga sangat penasaran dengan adanya sayembara itu. Sebagai seorang pemuda, ia juga memiliki perasaan yang sama antusiasnya.
            Karena penasaran yang amat amat amat amat berlebihan Agung pun bertanya pada ibunya. Di sebuah kamar yang sempit dan pengap Agung bertanya pada ibunya.
“Bu, memangnya apa yang dibicarakan oleh Nyonya Dessi dan kedua anaknya tadi?” Tanya Upik Agung pada ibunya memperjelas adanya sayembara
“Oh tadi Ibu dengar – dengar ada sayembara untuk memperebutkan sang putri” Jawab Bik Suti
“Wah, Agung boleh ikut ya?” Tanya Agung penuh antusias
“Sudahlah nak, kamu tidak usah berbuat yang macam – macam kalau Nyonya Dessi sampai tahu kita bisa dipecat”
“Ta..ta..pi bu” Tambah Agung
“Sudahlah nak, maafkan ibu” Jawab Bik Suti, mengakhiri percakapan
            Keinginan Agung tidak direstui oleh ibunya karena alasan yang tidak masuk akal. Kalau Nyonya Dessi tidak tahu Agung ikut dalam sayembara, pasti tidak akan dimarahi apalagi dipecat. Karenanya niat Agung saudah bulat, jika tak ada halangan ia pasti ikut sayembara itu.  
            Keeseokkan harinya, sang putri sedang jenuh di dalam istana ia ingin berjalan – jalan di suatu taman. Tanpa pengawalan sang Putri menyusuri taman yang berada di tengah desa. Dan tanpa sengaja Fai dan Edi juga berada disitu dan melihat sang Putri. Niat jahat pun terbesit di otak mereka untuk menggoda sang putri. Untung saja sang Putri sudah berpengalaman dalam menghadapi laki – laki yang suka menggodanya.
            Sementara itu, Agung yang dalam perjalanan ke pasar tanpa sengaja melihat kedua majikannya sedang menggoda sang Putri. Ia pun berniat menolong sang Putri. 
“Eh sedang apa disini den?” Sahut Agung mengagetkan Fai dan Edi
“ Sudah Upik Agung, jangan ikut campur” Jawab Fai ketus
“Ini urusan kita, urusi saja urusanmu!” tambah Edi
“Den jangan begitu, kasihan tuan putri. Putri kan jarang menikmati pemandangan di taman ini” kata Agung menyelamatkan putri
“Sudah Gung jangan banyak omong! Pergi sana!” usir Fai
“Aku tidak akan pergi jika den – den masih mengganggu tuan putri” kata Agung menyelamatkan putri
“Oh kamu berani sama kita ha!”
            Perkelahian pun terjadi antara Fai, Edi dan Agung. Dan perkelahian itu dimenangkan oleh.....
“Makasih ya sudah menolong saya” kata sang putri berterima kasih
“Iya sama – sama tuan putri”
            Tanpa disangka dalam hati Agung menyimpan perasaan terhadap sang Putri. Agung pun ingat akan sayembara yang disampaikan ibunya. Sehingga semakin tertanam niat di hatinya untuk mengikuti sayembara tersebut tanpa sepengetahuan ibunya serta majikan – majikannya.
            Hari yang di tunggu – tunggu pun telah tiba. Sayembara akan dilangsungkan. Fai dan Edi pun bersiap – siap untuk dapat menampilkan yang terbaik dalam sayembara nanti. Dan Agung pun juga bersiap dengan banyak berdoa srta menyiapkan dengan baik apa yang akan ia tampilkan di dean sang Ratu dan putri nya. Serta pagi itu ia memakai setelan baju terbaiknya lalu berkata jujur saat berpamitan pada ibunya untuk mengikuti sayembara untuk menjadi suami sang Putri kerajaan. Di kamar yang sempit dan pengap
“Agung, mau kemana kamu nak, kok rapi begitu?” Tanya Bik Suti
“Ibu, Agung mau minta restu ibu. Agung mau ikut sayembara itu bu. Karena akan percuma kalau Agung ikut sayembara itu tanpa restu ibu” Kata Agung pada ibunya dengan suara lembut
“Agung, sebenarnya ibu tidak keberatan kalau kamu ikut sayembara itu, karena rezeki setiap orang sudah ada yang mengatur. Tapi jika Nyonya Dessi mengetahuinya kita bisa dipecat, karena mereka pasti tidak mau disaingi oleh orang kecil seperti kita ini” Kata Bik Suti
“Ibu tenang saja, mereka akan kaget kalau Agung berani ikut sayembara itu, Agung yakin bisa memenangkannya dan membuat keluarga Nyonya Dessi malu. Bu restui Agung mengikuti sayembara itu, dan doakan Agung bu” mohon Agung pada Ibunya
“Iya, yasudah nak, ibu restui kamu ikut sayembara itu, ikutilah kata hatimu jangan terlena dengan kecantikan dan harta mereka, karena semua itu hanyalah sementara nak. Selamat berjuang ya nak” kata Bik Suti akhirnya
“Terima kasih Ibu, Agung akan selalu ingat pesan ibu dan Agung akan berjuang keras untuk meningkatkan derajat keluarga kita. Agung pamit ya bu” kata Agung bersemangat
“Iya nak, hati hati” sahut Bik Suti
            Nyonya Dessi dan kedua anaknya sudah siap untuk pergi ke sayembara. Dan mereka pun berangkat tanpa mengetahui jika Agung juga mengikuti sayembara itu.  Pergilah Agung ke sayembara itu dengan penampilan terbaiknya. Dan sesampainya di istana, sayembara itu baru dimulai
“Baiklah semuanya. Kita mulai sayembara ini. Siapa yang dapat memenangkan sayembara ini, dia dapat menjadi suami Putri saya” Ratu membuka sayembara
“Sayembaranya apa Ratu?” Tanya Fai
“Kalian harus menunjukkan bakat – bakat yang kalian miliki serta menjawab pertanyaan dai kami. Oke pertunjukan dimulai”
“Saya akan menunjukan bakat menyanyi saya, tapi sebelumnya, Putri tahu tidak bedanya kamu sama cacing?” rayu Fai
“Enggak, memangnya apa?” jawab sang Putri cuek
“Kalau cacing bisa menerobos tanah, kalau tuan putri bisa menerobos hatiku” rayuan maut Fai pun keluar
Lalu Fai pun menunjukan kebolehannya di hadapan Ratu dan sang Putri....
Setelah selesai....
“Nah sekarang jawab satu pertanyaan dari saya, kamu lebih memilih tahta, harta atau wanita? Tanya Ratu pada Fai
Harta saja, itu yang kita mau” bisik Nyonya Dessi
“Harta Ratu” jawab Fai pada Ratu
“Oke baiklah”kata Ratu
“Izinkan saya menunjukan bakat saya, tapi sebelumnya izinkan saya bertanya terlebih dahulu kepada tuan putri Ratu” Edi meminta izin
“Iya Silakan” jawab Ratu
“Putri tahu tidak bedanya kamu sama kucing? Rayu Edi pada sang putri
“Enggak, memangnya apa?” jawab sang Putri cuek
“Kalau kucing itu sukanya menggondol ikan, tapi kalau Putri telah menggondol hatiku” rayuan mau Edi tidak kalah dengan Fai
Lalu Edi pun menunjukan kebolehannya di hadapan Ratu dan sang Putri, bakat Edi adalah menari modern
Setelah selesai....
“Nah sekarang jawab satu pertanyaan dari saya, kamu lebih memilih tahta, harta atau wanita? Tanya Ratu
Tahta tahta, kau sangat pantas jadi pangeran nak” bisik Nyonya Dessi
“Tahta Ratu” jawab Edi pada Ratu
Tiba saatnya Agung menunjukan bakatnya....
“Izinkan saya menampilkan bakat saya Ratu” Izin Agung pada Ratu
Lalu Agung pun menunjukan kebolehannya di hadapan Ratu dan sang Putri, satu – satunya bakat yang dimiliki Agung adalah melantunkan ayat – ayat suci Al-Quran dengan merdu
Setelah selesai....
“Nah sekarang jawab satu pertanyaan dari saya, kamu lebih memilih tahta, harta atau wanita? Tanya Ratu pada agung
“Saya lebih memilih wanita Ratu, karena saya disini berusaha untuk mendapatkan hati wanita itu Ratu yaitu Tuan Putri” jawab Agung lantang
Ratu pun meminta keputusan pada putrinya, siapa pria yang akan dipilih oleh putrinya. Lalu setelah selesai Ratu pun mengumumkan keputusannya.
“Baiklah. Sekarang tibalah pengumumannya. Yang berhak menjadi pangeran sang Putri dan nantinya akan memimpin negeri ini adalah ......... Aguuuuuuuung!”
“Apa? Tidak mungkin!” teriak Nyonya Dessi, Fai dan Edi
“Keputusan tidak dapat diganggu gugat” kata Ratu
Lalu Agung menghampiri sang Putri...
“Putri, apakah kamu mau menjadi istriku?” tanya Agung melamar sang Putri
“Tentu saja Gung” jawab sang Putri
            Sayembara pun dibubarkan, Nyonya Dessi dan kedua anaknya sangat kesal dan tidak menyangka bahwa Agung mengikuti sayembara itu dan memenangkan pula menjadi pangeran sang Putri. Berbeda jauh dengan  Agung yang pulang untuk menjemput ibunya dengan perasaan yang teramat bahagia.




Sesampainya di rumah...
“Suutiiii” panggil Nyonya Dessi
“Iya Nyonya ada apa? Jawab Bik Suti dari dapur
“Kamu dan anakmu itu sama saja, sama sama udik, sama sama gak tahu diri, sama sama pokoknya sama semuannya!” hardik Nyonya Dessi
Disaat Nyonya Dessi menghardik Bik Suti, tiba – tiba Agung datang dengan gagah berani.
“Stop! Hentikan! Jangan lagi menghardik ibu saya!” teriak Agung dari pintu depan
“Oh! Sekarang kamu berani ya sama saya. Mau saya peca......!” ancam Nyonya Dessi
“Silakan Nyonya pecat saya dan ibu saya. Bu ayo sekarang ikut Agung, kita akan tinggal di Istana mulai sekarang” kata Agung lantang
“Ibuuu, Agung memenangkan sayembara sang putri, pesan ibu telah Agung tafsirkan kalau kita harus memilih wanita khususnya satu wanita yang harus Agung” ajak Agung bahagia
“Kamu serius nak?” tanya Bik Suti tidak percaya
“Iya bu, ayo sekarang kita pergi!” ajak Agung dengan penuh semangat
            Akhirnya Agung dan ibunya pergi meninggalkan rumah Nyonya Dessi untuk menuju istana. Selang 2 minggu kemudian, Agung dan sang putri menikah dan mereka hidup bahagia di istana yang megah nan mewah. Para penghuni istana semakin disegani oleh rakyatnya karena Agung menebar aura positif dari sikap dan perilakunya yang amat terpuji dan kerja keras Agung juga banyak ditiru oleh pemuda desa. Agung sangat bersyukur dengan apa yang telah ia peroleh sekarang, karena ia yakin hidup itu berputar bagai bola yang menggelinding, terkadang kita dibawah dan terkadang kita berada di atas.
Sememntara itu bagaimana dengan Nyonya Dessi dan kedua anaknya?
Sekarang mereka harus membayar banyak hutang dan hidup terlantar di jalan – jalan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"NEKAD FRUSIK TANPA APD" ON MY YOUTUBE CHANNEL

NASKAH DRAMA "Aisyah Mentariku"

#berbagikisah "Boneka Beruang"