Tertawalah Sekarang, Menangislah Nanti
Ya sebenarnya aku sering mengalami peristiwa – peristiwa
buruk, contohnya seperti judul diatas yaitu tertawalah sekarang, menangislah
nanti. Awalnya aku menyadari hal itu karena salah satu temanku mengatakannya. Dia
bilang bahwa orang tua dulu juga sering mengalami hal seperti itu, inilah
kata mereka “jika kalian tertawa
dengan lepas sampai kau merasa bahagia sekarang, maka kamu nanti akan menangis atau merasa susah, dan
bisa juga sebaliknya”. Itu semua aku sadari belum lama ini dan inilah 2 contoh cerita mengenai hal ini.
Suatu hari yang cerah 5 tahun yang lalu, waktu itu aku SD
kelas 6, Hari itu berjalan seperti biasa aku dan satu kelas selalu menikmati pelajaran
yang diberikan oleh wali kelas kami sekaligus guru semua mata pelajaran kami,
beliau bernama pak Luluk Su’udi biasa dipanggil pak Hudi. Pak Hudi selalu
menyelingi candaan saat memberi pelajaran sehingga kami selalu tertawa saat
pelajaran, nah inilah peristiwa yang membuat aku menangis kemudian, saat aku
mengumpulkan tugas aku berjalan ke depan kelas, namun setelah aku kembali ada
temanku berkata “yan rokmu kenapa, kok banyak tintanya” dan setelah kulihat
ternyata di bangkuku ada tinta bulpen banyak sekali, dan pasti rokku juga kena
tinta itu. Ternyata benar banyak sekali tinta di rokku. Karena saat itu aku
masih kecil, awalnya aku sudah mehanan tangis tapi tidak bisa dan akhirnya aku
pun menangis karena waktu itu aku takut dimarahi oleh orang tuaku.
Dan cerita kedua adalah yang 3 bulan lalu baru aku alami,
suatu hari aku berangkat ke sekolah dengan mengendarai sepeda motor. Ya di SMA
kali ini aku sudah boleh mengendarai motor sendiri, selain lebih efektif aku
juga tidak merepotkan ibuku yang dulu selalu mengantarku ke sekolah padahal
jarak rumah dari sekolahku 2 kali lebih jauh dari tempat kerja ibuku. Kembali
lagi pada hari ini, semua berjalan dengan lancar tanpa ada yang menyusahkan
sampai sepulang sekolah. Nah sepulang sekolah aku mampir dulu ke kesekretariatan
PMR, disitu
aku bercanda dengan kakak kelas dan alumni yang datang, sampai pada akhirnya
aku mau pulang dan mengambil kunci motorku, tapi setelah aku lihat di depan
masjid ada mbak ipeh salah satu kakak PMR sedang membersihkan gudang, aku putuskan
untuk membantu sebentar, aku berjalan menghampiri mereka dengan kunci motor
yang kumainkan di tangan.
Nah setelah aku membantu membersihkan gudang, aku kembali
ke sekret dan tak lama kemudian ku sadari kunci motorku tak ada di tanganku,
sakuku dan kucari di tas juga tak ada. Aku bingung, aku tanya ke semua orang,
mereka juga membantuku kembali ke gudang namun tak ada juga, sampai akhirnya
malam pun tiba. Aku bingung, aku baru saja di amanati motor oleh orang tuaku,
tapi sekarang kuncinya sudah hilang aku merasa bersalah dan takut, dan
komplitnya rumahku jauh dan itu sudah mulai malam. Di dalam sekret aku terus
mencoba tidak nangis, aku menahannya tapi usahaku tak berhasil aku akhirnya
menangis juga. Semua orang menenangkanku, sampai akhirnya aku diantar pulang
oleh mas acil salah satu alumni. Sepanjang jalan aku tahu mas acil masih
menenangkanku tapi aku hanya diam dan melamun.
Dan sampai di rumah
aku tetap terdiam kaena takut dimarahi oleh orangtua, sampai akhirnya aku
ditanyai dan aku mengaku. Ternyata orang tua ku tak marah padaku dan berjanji
akan mengantar sekolah besok, dan mereka hanya menasehatiku agar tidak
mengulanginya kembali.
Komentar
Posting Komentar