Plural-Multikultural, Paham Pendidikan Islam Moderat di Indonesia


            Apasih makna pendidikan islam moderat itu?, kok asing ya di telinga saya sebagai orang awam. Sebelum kita melangkah ke pendidikannya, maka alangkah lebih mudah kita mengartikan kata moderat.
Istilah moderat (moderate) berasal dari bahasa Latin moderare yang artinya mengurangi atau mengontrol. Kamus The American Heritage Dictionary of the English Language mendefinisikan moderate sebagai: not excessive or extreme (tidak berlebihan dalam hal tertentu). Kesimpulan awal dari makna etimologi ini bahwa moderat mengandung makna obyektif dan tidak ekstrim, sehingga definisi akurat Islam Moderat adalah Nilai-nilai islam yang dibangun atas dasar pola pikir yang lurus dan pertengahan (I’tidal dan wasath).
            Menurut Syaikh Yusuf Al Qardhawi, Wasatiyah (pemahaman moderat) adalah salah satu karakteristik islam yang tidak dimiliki oleh Ideologi-ideologi lain. Dalam alquran di jelaskan:

 Artinya : Dan demikianlah aku jadikan kalian sebagai Umat yang pertengahan.(QS. Al Baqarah: 143).
Beliau termasuk deretan ulama yang menyeru kepada dakwah islam yang moderat dan menentang segala bentuk pemikiran yang liberal dan Radikal. Liberal dalam arti memahami islam dengan standar hawa nafsu dan murni logika yang cenderung mencari pembenaran yang tidak ilmiah. Radikal dalam arti memaknai islam dalam tataran tekstual yang menghilangkan fleksibilitas ajarannya. Sehingga terkesan kaku dan tidak mampu membaca realitas hidup.[1]
Nah setelah mengerti makna dari moderat kita mulai menilik pada ada tidaknya nilai – nilai moderat dalam pendidikan. Dalam konteks ini, Kementrian Agama sebagai lembaga formal milik pemerintahan telah berupaya untuk menanankam Islam moderat bagi Islam Indonesia. Menteri Agama, yang saait itu dipegang oleh Suryadharma Ali pernah menyatakan bahwa “Islam Indonesia moderat yang mengutamakan toleransi dan kebhinekaan” .[2]  
Disinilah perlunya penyemaian dan penguatan Islam moderat melalui jalur pendidikan, baik secara formal, informal dan nonformal, baik oleh pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat. Muhammadiyah dan NU yang sejak awal dicap sebagai pengusung Islam moderat , diharapkan memiliki andil besar bagi pemberdayaan Islam moderat di Indonesia. Sudah saatnya pendidikan islam moderat seperti NU dan Muhammadiyah yang bergaris moderat, untuk membimbing kelompok agama agar lebih mengedepankan kearifan, bukan teror, dan kekerasan dalam menyalurkan militansi keagamaan mereka[3]
Dalam bidang pendidikan ideologi yang berbeda antara NU dan Muhammadiyah merupakan sumber kekuasaan yang mengarahkan pendidikan. Pengarahan pada pendidikan ini dapat diwujudkan dalam tiga hal, yakni :
1.      Menentukan menentukan kebijakan dan tujuan pendidikan
2.      Penyampaian nilai – nilai yang tersembunyi
3.      Memformulasikan kurikulum
Ketiga aspek ini senantiasa dipengaruhi dan ditentukan bentuk dan formatnya oleh ideologi pendidikan yang dianut oleh suatu lembaga pendidikan. Pengaplikasian dalam pendidikan islam NU dan Muhammadiyah adalah sesungguhnya dengan dasar yang sama yaitu Al-Quran dan Hadits, namun terdapat sedikit ideologi baru yang muncul antara keduanya, namun itu semua tidak menyebabkan keduanya bercerai berai, mereka harus tetap bisa hidup berdampingan. Maka dari itu keduanya disebut pendidikan islam moderat yang mengedepankan jalan tengah seperti pada surah Al-Baqarah : 143 yang menyebut umat islam sebagai Ummah Wasata yang dimaknai oleh Muchlis M. Hanafi  bahwa al-wasat  sebagai metode berpikir, berinteraksi dan berperilaku secara seimbang dalam menyikapi 2 keadaan, sehingga ditemukan sikap yang sesuai dengan prinsip – prinsip Islam dan tradisi mayarakat, yaitu seimbang dalam akidah, ibadah dan akhlak.[4]
Sudah tergambar jelas bahawa pendidikan kita di Indonesia ini telah mengedepankan pendidikan islam moderat yang menyemaikan melalui model pluralis – multikultural. Wawasan pluralis – multikultural ini dianggap penting bagi pelajar karena dapat mengajarkan mengenai menghargai perbedan, menghormati secara tulus, komunikatif, terbuka, dan tidak saling curiga, selain itu meningkatkan iman dan taqwa. Bukan untuk mengajarkan anak didik untuk menjalankan agama seenaknya sendiri, tanpa tanggung jawab dan ketulusan, tetapi justru mengajarkan untuk taat beragama, tanpa menghilangkan identitas keagamaan masing – masing, wajah pendidikan pluralis – multikultural ini yaitu moderat dan ramah.
Dengan demikian, keberadaan pendidikan Islam moderat ini menjadi penting untuk konteks Indonesia, di tengah – tengah maraknya berbagai ideologi radikal yang masuk ke Indonesia melalui jaringan transnasional. Jokowi, selaku Presiden RI pun menegaskan bahwa Islam Indonesia adalah islam yang rukun dan selalu rukun berdampingan dengan agama lain, dan ini menimbulkan citra yang baik terhadap bangsa Indonesia yang plural, tetapi juga rahmatan lil al-‘alamin. “Perguruan tinggi Islam moderat yang betul sebuah universitas yang besar, yang nanti akan menjadi kiblat perguruan tinggi Islam” demikian tegas Joko Widodo[5]




[1] http://fathurrahman-sudan.blogspot.co.id/2011/04/mengenal-konsep-islam-moderat.html
[2] Suharto, Toto. 2014. Gagasan Pendidikan. ISLAMICA, Volume 9, Nomor 1. Hal. 84
[3] Muhammad Ali, Teologi Pluralis-Multikultural: Menghargai Kemajemukan, Menjalin Kebersamaan (Jakarta: Penebit Buku Kompas, 2003), 122.
[4] Muchlis M. Hanafi, Moderasi Islam: Menangkal Radikalisasi Berbasis Agama (Jakarta: Ikatan Alumni Al-Azhar dan Pusat Studi Al-Quran, 2013), 3-4
[5] Suharto, Toto. 2014. Gagasan Pendidikan. ISLAMICA, Volume 9, Nomor 1. Hal. 97

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"NEKAD FRUSIK TANPA APD" ON MY YOUTUBE CHANNEL

NASKAH DRAMA "Aisyah Mentariku"

#berbagikisah "Boneka Beruang"