Empat mamen selalu kompak (Cerita Pendek)

 
          Pagi yang cerah di SMP Harapan. Sekolah yang terletak di pinggir jalan ini termasuk sekolah favorit dan strategis sekecamatan. Oleh karena itu, Nina seorang gadis berambut panjang yang selalu dikuncir satu dan sekarang duduk di kelas 2B itu cepat betah di SMP ini walaupun awalnya dia tidak mau sekolah di SMP itu karena jarak sekolah dari rumahnya mencapai 8 kilometer. Tetapi berhubung  ibunya seorang guru di SMP itu jadi Nina nurut saja.

`           Pagi itu bel berbunyi sangat nyaring dari dalam sekolah, tetapi masih saja ada siswa yang keluar masuk koperasi sekolah hanya untuk sekedar membeli air mineral untuk dibawa ke kelasnya masing – masing. 2 menit kemudian Nina berlari ke kelasnya yang berada di lantai 2. Di dalam kelas Nina melihat teman – temannya sudah ramai dan sedang berkerumun, lalu ia bertanya.


“Eh, udah bel belum?” Tanya Nina sambil berjalan menuju bangkunya
“Yaelah, udah dari tadi Nin!” Jawab Fira teman sebangku Nina sambil terus mengerjakan
“Eh, kalian ngerjain tugas matematikan ya? Aku ikutan dong!” kata Nina sambil mengeluarkan buku matematikannya
“Nih, cepetan bentar lagi pak Mus pasti udah dateng”  kata Rani sambil menyodorkan buku dari belakang

 Rani dan Fira memang terkenal rajin mengerjakan tugas tapi jika sudah susah mereka ngerjainnya pagi – pagi di kelas alias nyontek punya orang lain. Beberapa saat kemudian akhirnya pak Mus datang dan membahas tugas yang telah diberinya minggu lalu. Di sela – sela pak Mus menjelaskan tugas di depan papan tulis, Fira dan Nina asyik mengobrol.
           
“Nin, nyambung nggak?” Tanya Fira tetapi pandangannya tetap lurus ke depan
“Hah,  apa Fir?” jawab Nina sambil cepat – cepat menoleh.
“Kamu, nyambung nggak sama yang dijelasin pak Mus?” Jelas Fira sambil geleng – geleng dan berdecak
“Nyambung sih, tapi dikit” Jawab Nina sambil nyengir
“Anak kayak gitu kamu tanyain Fir, Fir. Jawabannya pasti gak pasti tuh” kata Mitha dari belakang Fira
“Iya nih, kalau di tanyain jawabannya pasti gak pasti pake nyengir pula.” Tegas Fira sedikit kesel
“Sabar, sabar Fir ngadepin anak lemot kayak si Nina” sambar Dwita sambil menoleh ke belakang
“Eh, ngikut – ikut aja kamu Ta. Eh, tunggu – tunggu kenapa semua jadi nyalahin aku sih?” kata Nina sambil bermuka melas
“Dasar Lemoot!!” kata Fira, Mitha dan Dwita berbarengan yang membuat Nina cemberu dan sukses membuat Pak Mus melotot kearah mereka.

Keesokan harinya Nina masuk ke dalam kelasnya yang sudah ramai, Nina sudah menduga pasti Rani dan Mitha membawa majalah Korean Pop baru dan memperlihatkannya pada Fira yang sama – sama penyuka Korean Pop. Setelah meletakkan tasnya Nina beranjak keluar kelas karena dia malas mendengarkan kalimat “Ih, unyu - unyu” dan kalimat “Wih, keren” dari para penyuka orang – orang korea itu.


Di luar kelas atau di balkon lantai dua mata Nina langsung tertuju pada sosok laki – laki tinggi, lumayan hitam dan kurus dia. Laki – laki itu adalah Ian siswa kelas 3F yang Nina sukai sejak pertama bertemu pada awal – awal masuk kelas 2, tetapi Ian tidak mengetahuinya. Mata Nina belum lepas dari sosok Ian sampai Ian sudah tak terlihat lagi. Dan tak disangka ternyata Dwita yang sedari tadi memperhatikan Nina akhirnya iseng bertanya.  

“Hey!” Ujar Dwita dari samping  sambil menepuk pundak Nina
“Eh copot – copot,, ih apa sih Ta ngaget – ngagetin aja” Kata Nina sambil terkaget - kaget
“Nin, disini udah ada yang kamu suka belum, mumpung kelas 2 loh?”  Tanya Dwita sambil berbisik
 “Eh, ehm…ehm..enggak…eh…iya… eh..enggak  kok  Ta.”  “Emangnya kenapa kok tiba – tiba tanya gitu? Jawab Nina gugup lalu bertanya balik
“Ah, bohong pasti ada tadi buktinya. Ayolah Nin cerita dikit sama aku gak akan ku beri tahu ke siapa – siapa kok” Goda Dwita sambil memohon jail
“Ehm… iya…iya Ta ada, kamu juga ya? Kelas berapa Ta, kelas 2 atau 3?” kata Nina terpaksa sambil nyengir
“Ehm… iya ada, kalau kelasnya….kamu dulu aja deh nanti aku jawab, kalau enggak aku nggak jawab nih ” Jawab Dwita sambil tersenyum lebar

Nina sangat penasaran karena Dwita memang tak pernah digosipkan dekat dengan laki – laki mana pun. Mereka sama – sama diam sambil berjalan menuju laboratorium TIK. Lalu di dalam  laboratorium TIK Nina menimbang – nimbang untuk menceritakannya apa tidak pada Dwita yang baru di akrabnya pada awal kelas 2 ini. Akhirnya Nina memutuskan untuk menceritakannya saja, karena ia berpikir buat apa menyimpan rahasia yang tak jelas dan sedikit tak penting itu, toh Nina tidak mungkin bisa berpacaran dengan Ian karena Ian  sudah harus fokus pada ujiannya. 2  jam pun berlalu Dwita tetap memaksa Nina untuk menceritakan siapa orang yang disukainya setelah keluar dari Lab TIK.

“Ayo Nin kelas berapa kok?” paksa Dwita setelah keluar dari lab.
“Aduh, iya..iya kelas 3 Ta, kalau kamu kelas berapa?” jawab Nina terpaksa
“Iya, aku juga kelas 3, 3B. Kamu Nin?” jawab Dwita sambil bertanya balik
“Ehm… 3 apa ya?. Nanti aja deh kalau inget, wek” goda Nina sambil menjulurkan lidah dan menghindar dari Dwita. Walaupun lemot Nina juga suka membuat teman – temannya penasaran. Dasar  Nina.
“Eh, eh ayolah Nin, kamu tadi kan udah aku beri tahu seh. Ya,ya,ya?” paksa Dwita sambil menarik Nina dan sedikit memaksa
“Ih, iya..iya, anak 3F Ta. Puas?” jawab Nina sedikit kesal
“Hehe, belum Nin. Namanya siapa?” balas Dwita makin jail
“Ih, gak usah, gak usah. Nanti kamu juga tahu sendiri” balas Nina kesal sambil menuju kelas bersama Fira
Tapi Fira tidak tahu kalau Nina dan Dwita membicarakan tentang laki – laki idaman. Walaupun Fira teman sebangkunya Nina juga tidak berniat menceritakannya pada Fira karena sejak kelas 1 Nina belum mengenal betul sifat Fira.

Sejak saat itu Nina dan Dwita pun sering berbagi cerita tentang masing – masing orang yang dikagumi. Kadang Fira sebagai teman sebangku Nina jadi sering dicuekin karena terlalu seringnya Nina bersama Dwita. Hubungan Dwita dengan Shinta teman sebangkunya pun juga ikut tidak akur, tetapi itu karena Shinta yang sibuk sendiri sejak ia menjadi makil ketua OSIS di SMP Harapan. Seminggu kemudian menyadari dirinya tidak dipedulikan akhirnya Fira mencari teman lain walaupun sebenarnya hubungannya dengan Nina baik – baik saja. Rani dan Mitha yang menyadari jika Nina, Dwita dan Fira berselisih paham segera menanyakannya pada Dwita pada jam istirahat.

“Hey Ta!” Panggil Rani dan Mitha
“Hey Mit, hey Ran ” jawab Dwita sambil tetap murung
“Ta, kenapa sih Nina sama Fira kok kayaknya agak jauhan gitu sekarang?” Tanya Mitha blak - blakan
“Ehm, gak tahu ya Mit. Sejak Nina sering cerita – cerita ke aku dia jadi ngecuekin Fira. Jadi masa’ ini salahku?” jawab Dwita sambil memasang muka bersalah
“Menurutku enggak juga sih, kamu nggak salah. Nina kan Cuma nemenin kamu yang akhir – akhir ini ditinggal Shinta sejak dia jadi wakil ketua OSIS. Nah, Fira sekarang kan juga udah jadi teman baik Lia dan kawan – kawan, ya sudah” jelas Rani panjang lebar
“Iya, menurutku Fira yang salah paham sama Nina. Jadi gimana dong?” jawab Nina sambil meminta pendapat
“Kalau menurutku sih kamu jangan sering lagi cerita – cerita sama Nina, biar Nina akhirnya balik lagi sama Fira. Gimana?” Kata Mitha memberi pendapat sambil tersenyum lebar
“Iya Ta kamu sekarang kan bisa bagi cerita sama kita, iya nggak?” ujar Rani sambil menyenggol Mitha
“Hemm..iya juga ya, ya udah deh” kata Dwita sambil tersenyum kepada kedua temannya itu.

Keesokan harinya Dwita mencoba tidak mendekati Nina walaupun biasanya Dwita yang suka bercanda sering membuat Nina tertawa terbahak – bahak di sela – sela pelajaran. Tapi hari ini terasa sepi tanpa ada suara dua anak manusia yang biasanya tertawa bersama namun sekarang malah dia bersama. Nina sebenarnya menyadari perubahan sikap Dwita namun Nina takut menanyakannya karena jawabannya Dwita pasti hanya diam dan akhirnya menghindar.


Sepulang sekolah Nina masih bingung denagn sikap Dwita tadi pagi, ia terus berpikir bagaimana cara menghadapi sikap Dwita sedangkan dia juga sudah tidak dekat lagi dengan Fira. Setelah lama berpikir. Nina memutuskan untuk tetap bersikap biasa pada keduannya esok hari. Tapi keesokan harinya Dwita juga bersikap biasa pada semuanya walaupun dia lebih dekat dengan Rani dan Mitha.

Seminggu kemudian, Dwita sudah kembali bercerita lagi ke Nina karena selama dekat dengan Rani dan Mitha ia tidak pernah bercerita tentang seseorang yang disukainya malah Dwita ikut membantu Rani dan Mitha mendekati siswa kelas 3C yang bernama Rama dan Yudha. Tetapi sebenarnya usaha pendekatan itu gagl total, karena Rama sudah mempunyai pacar dan Yudha sulit untuk didekati. Dan sekarang hubungan mereka semua sudah baik – baik saja apalagi Nina juga mulai akrab dengan teman baru Fira yaitu Lia, Putri, Ilda dan Avil.

Tak terasa satu tahun sudah mereka lalui masa sulit dalam berteman mereka sekarang telah duduk di kelas 3B. Nina berharapp di kelas 3B ini tidak ada perselisihan lagi di antara mereka semua. Malah mereka sekarang makin kompak setelah tahu kalau ada anak kelas 3H yang menyukai Rani. Nina, Mitha dan Dwita yang sekarang biasa disebut “Mamen” alias teman akrab berusaha untuk membuat hubungan Rani dan Vian anak kelas 3H itu menjadi lebih dekat, dan akhirnya usaha mereka berhasil Rani dan Vian akhirnya jadian juga sampai sekarang. Dan sekarang keempat  “Mamen” akan selalu kompak dalam menyelesaikan masalah apalagi dalam masalah cinta walaupun ketiga diantaranya masih jomblo.


SELESAI

Tokoh :
Nina         : Dwi Fitriyani
Dwita       : Fasdini Dwi Tanti
Mitha       : Adiningtias Tri hutami
Rani         : Azizah Intan Maharani
Fira          : Fitria Nurul Hidayati
Lia           : Yusrina Nur Amalia
Putri        : Malinda Kurnia Putri
Ilda          : Hilda Nur Wahidah
Avil          : Avilia Asfida Suprayitno
Shinta      : Cynthia Aprilia Supandi
Vian         : M. Farobi Alivian 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"NEKAD FRUSIK TANPA APD" ON MY YOUTUBE CHANNEL

NASKAH DRAMA "Aisyah Mentariku"

#berbagikisah "Boneka Beruang"